Tulisan ini ditujukan kepada pkswatch.blogspot.com, yang sedang naik daun, dan menjadi ajang adu opini seputar PKS.

Saat pertama kali membuka blog ini, dengan referal dari detik.com, maka ada sesuatu yang terkembang di wajah, dialah : senyum.
Ya, saya senyum-senyum saat mengeksplor blog ini.

Ya, senyum terkembang karena :
1. pada akhirnya, ada juga someone yang mau mengkompile input, nasehat, saran, kritik publik/ dari kawula untuk PKS, dengan lebih sistematis dan mudah diakses.
Sebetulnya, alur kritik atau lebih tepatnya 'nasehat' di tubuh PKS, khususnya nasehat dari 'bawah' ke 'atas' telah berlangsung lama, tapi bersifat sporadis, reaksioner, sektoral, dan belum sistematis, atau belum bersudut pandang integral/menyeluruh, dan tentu saja tidak mudah diakses.
Jadi, sebelum kita melongok konten blog ini lebih dalam. Kehadiran blog ini sebetulnya adalah sebuah keniscayaan, seiring dengan bertumbuh kembangnya PKS di ranah publik.
Blog, atau bahkan nanti mungkin ada yang berupa portal, adalah hal yang tak dapat dihindari dalam proses pendewasaan partai berkarakter intelek seperti PKS.
Monitoring, Watching , dan sejenisnya, membawa dampak positif pada kinerja, semangat dan kesiapsiagaan.
Analoginya, kita semangat berbuat baik, karena merasa Allah me-watch kita. Semakin kita meyakini kekuatan daya watch-Nya, maka dijamin, kita akan semakin tidak berani untuk berbuat macam-macam (baca : maksiat)

2. beragamnya komentar para pengunjung. Ini mengindikasikan bahwa, blog ini dipantau oleh pengunjung dengan beragam level kepemahaman. Dari yang telah lama bergelut hingga yang baru kenal PKS kemaren sore.
Ini positif, karena pengunjung yang --kita sebut saja-- 'senior', akan berusaha untuk mendewasakan paradigma atau cara pandang 'the new comer'. Sementara, the new comer, dengan segala kebijaksanaan yang dimilikinya, berusaha memilah-milah setiap input yang masuk tentang PKS.
Jika dia masuk ke blog ini dengan niat baik, maka niscaya dia akan mudah merasakan betapa hangatnya atmosfer diskusi kader-kader PKS.

Tapi jika memang sudah punya niat buruk sejak awal, maka dia tidak akan mendapatkan hikmah sedikit pun dari blog ini, selain kepuasan emosi semata, karena sudah mengeluarkan uneg-uneg, cemoohan, justifikasi, atau yang sejenis dengan itu.
Sehingga, kekhawatiran blog ini melakukan penghancuran karekater terhadap PKS atau tokoh-tokohnya, tentu saja harus ada adan tidak perlu risau dengannya. Kekhawatiran itu justru dibutuhkan, karena dengan demikian, pengunjung yang berkompeten akan termotivasi untuk selalu memantau blog ini, dan pada gilirannya berusaha untuk memberikan perspektiflain agar berimbang.


Tapi jangan salah, saya bukan pendukung buta blog ini.
Saya menyarankan, hindarkan ketakjuban setelah melihat blog ini.
ketakjuban justru bersifat kontraproduktif terhadap kekritisan.
Seperti pesan yang hendak di sampaikan blog ini : jangan takjub sama PKS !, maka pesan yang sama juga berhak disandangnya : jangan takjub sama PKS Watch !
Ketakjuban akan menyilaukan mata dan mengurungkan niat hati untuk memberi nasehat/kritik.

Karena itu, Tulisan ini bermaksud untuk menyodorkan prinsip global sebelum melongok artikel by artikel, kritik by kritik, nasehat by nasehat, dalam blog ini :

1. Ingatlah selalu, bahwa sifat dasar pengkritik yang tidak berhati-hati adalah, tidak mampu melihat gajah dipelupuk mata dan lihai dalam mendefinisikan semut di ujung lautan.

Jika tak berhati-hati, kelak akan tiba waktunya, saat si semut sudah berubah menjadi gajah, (sudah tidak dapat dilihat kesalahannya, dan menjadi 'besar'), gantian si gajah di mata menjadi semut (dikritisi oleh banyak orang dan 'kerdil').

Ini bukan ancaman, tapi sekedar nasehat, bahwa tidak melulu kekurangan atau kesalahan orang lain yang kita ungkap dan kritisi, walaupun dengan tujuan baik, tetapi ke-ksatria-an kita dalam mengakui kesalahan kita sendiri. Khususnya kesalahan dalam mengambil cara pandang, kesalahan dalam mem-persepsi/asumsi dan kesalahan dalam menyusun logika, ataupun sekedar kesalahan teknis, soal memili kata yang thoyib dalam melontarkan kritik.

2. Ingatlah selalu, bahwa setiap kritikan sejatinya juga tertuju pada diri si pengkritik.
Saat kita mengkritik kinerja aleg pKS, atau kinerja kader-kadernya, maka pertanyaan yang sama juga tertuju pada kita : bagaimana dengan kinerja kita sendiri, di dunia/profesi yang sedang sedang kita geluti.

Dalam konteks dakwah, pertanyaannya menjadi : apa yang sudah kau sumbangkan untuk dakwah/ untuk Islam selama umur hidupmu di dunia ini ?

Yang ingin kita hindari adalah : Saat para kader kelelahan menjalankan tugas dakwahnya, kita kelelahan karena kebanyakan mengkritisi orang, dan lalai dengan amanah dakwah yang kita emban.

Selalu terbuka kemungkinan, karena minimnya informasi yang masuk, kita secara tidak sadar telah men-judge seseorang dengan rapor negatif, padahal saat informasi yang sebenarnya terkuak, seseorang itu berhak atas sebuah apresiatif positif.
Sumbangsih/kontribusi dakwah dari seseorang yang kita kritisi kadang ternyata jauh melebihi kontribusi dari apa yang telah kita lakukan.

Karena itu, dalam memberi kritik, secukupnya saja tak perlu over dosis. Sama seperti kita mencintai dan membenci, secukupnya saja. Agar kita siap secara mental, saat yang kita cintai berubah menjadi membenci atau yang kita benci justru menjadi sesuatu yang harus kita cintai.


3. Ingatlah selalu, bahwa dakwah disusun dengan pondasi jamaah (keluarga, kerja sama, ukhuwah, dsb) bukan infirodiyah (sendiri).
Rasul pun sempat mengakui bahwa Islam sangat bersyukur dengan kehadiran Abu Bakar dan sahabat-sahabat lainnya. Peran ke-jamaah-an mereka adalah tidak terbantahkan.
Dan banyak hikmah lain, yang intinya, jamaah dikedepankan daripada ke-individuan.

Artinya pula, saat terjadi kontradiksi antara jamaah dengan individu, dalam hal ini individu harus bersikap arif.
Kita mungkin pernah bersikeras dan bersikukuh agar jamaah mengikuti pendapat kita, karena kita meyakini pendapat kita-lah yang benar. Tetapi, jika jamaah atau hasil syuro memutuskan tak demikian, maka mundur untuk menjadi infirodi (sendiri) bukanlah jalan keluar terbaiknya.

Karena, saat jamaah telah mengkoreksi kesalahannya, kita sudah tak berada di dalamnya. Koreksi, dalam jamaah adalah sesuatu yang dimungkinkan. Syuro, yang menghasilkan keputusan yang bersumber dari pendapat kolektif, sangat memungkinkan untuk mengidentifikasi kesalahan, lalu mengubahnya dengan yang lebih mendekati kebenaran.

Jadi, selama masih berkutat di seputar ijtihadi, usaha untuk mempertahankan persatuan lebih utama daripada usaha untuk membuktikan kebenaran pendapat individu, yang berakibat pada perpecahan.
Umat ini, lebih butuh persatuan. Karena perpecahan telah terbukti tidak memberi kontribusi positif apapun terhadap Islam, selain kepuasan individu.

Lagi, kesolehan sosial lebih mulia dimata Allah ketimbang kesolehan individu, walaupun sikap terbaik adalah tidak mendikotominya. Rasul lebih suka umatnya bekerja, membina umat, daripada mereka yang mengejar 'surga' hanya dengan menghabiskan waktunya di dalam masjid beribadah.

4. Kritik yang berimbang lebih mencerahkan.
Apapun bentuk kritiknya, tapi saat mulai masuk ke justifikasi personal yang cenderung miring, atau penilaian yang cenderung menurunkan kpercayaan, maka ekses negatifnya akan jauh berkurang, jika mematuhi kaidah cover both side.
Berani memuat kirik, maka berani pula memuat tanggapannya, atau mungkin pula pembelaannya, atau mungkin pula klarifikasi, sebagai penghormatan terhadap prinsip tabayun.

Cara ini, mungkin bisa dilakukan dengan menghubungi, mencari tahu, interview, sebelum tulisan di posting. Mungkin mirip wartawan, tapi ini adalah konsekuensi blogger yang mempublikasi tulisan kritik yang diakses oleh banyak orang.

Blogger, tak dapat mengandalkan pengunjung, yang berharap nantinya memberi klarifikasi. Karena, klarifikasi yang bukan berasal dari obyek bahasan, walaupun benar, tapi tidak valid !

Jika, cover both side ini dilakukan, maka two thumps up ! Blog ini memang gentle. Ada pencerahan yang dilakukan. Paling tidak, tudingan penghancuran karakter tidak kental diarahkan kepada blogger.
Tapi, jika tidak dilakukan, maka pengunjung hendaknya tidak mudah menelan mentah-mentah informasi ataupun opini yang disajikan dalam blog ini, sebelum adanya klarifikasi ataupun konfirmasi yang jelas.

5. Soal inisial, anonimus, nama pena, dan alias.
Khalifah Ali pernah berpesan soal ini. Meski tidak tepat benar konteksnya, tapi bisa memberi pandangan. Khalifah Ali berpesan, janganlah melihat siapa yang mengatakan kebenaran, tapi kenalilah kebenaran, karena kebenaran itu akan mengenalkan dengan sendirinya siapa tokoh-tokoh kebenaran.

jadi, bagi saya (anda boleh tak sependapat), inisial, anonimus, nama pena, dan alias bukanlah hal prinsipil. Yang prinsip, adalah apa yang diungkapkannya/dituliskannya.
Kadang, kita menggunakan identitas yang disamarkan untuk menasehati saudara yang kita kenal agar ia mau mendengar. Kadang pula kita membuka identitas diri, karena dengan membuka identitas diri, kredibilitas nasehat/kritik lebih efektif dan efiesien.

Sebenarnya, untuk mengetahui siapa blogger ini sangatlah mudah. Dengan investigasi sederhana maka selesailah sudah. Atau anda cukup mengundangnya hadir di suatu tempat pada jam tertentu, maka identitasnya akan terbuka.

Tapi, sebaiknya, blogger ini tidak perlu membuka identitasnya. Agar, setiap komentar/tulisan yang masuk lebih obyektif, tidak ditumpangi oleh kesan-kesan subyektif, atau penyerangan yang sifatnya tendensius pribadi.

Bagi saya, seandainya blogger ini sebenarnya hanya seorang tukang becak pun, saya akan tetap menaruh respek sebagaimana sikap yang harus diberikan bagi seseorang yang memberi nasehat/kritik. Respek ini, tidak akan berganti takjub, jika seandainya si blogger adalah seorang pejabat besar. Ngga ada pengaruhnya.
Jadi, saya tidak akan buang-buang energi mencari tahu siapa pemilik blog ini. Energi yang saya buang adalah pada masalah konten nasehat/kritik.

Yang harus diperhatikan oleh blogger ini, adalah saat ada pengunjung anonimus beritikad tak baik dengan menulis komentar yang berindikasi deligitimasi terhadap kerja dakwah PKS,atau memprovokasi agar men-talak tiga PKS.
Jika ada pengunjung yang kemudian termakan provokasi ini, menjadikannya prinsip hidup : anti PKS, apalagi kemudian menyebarkan keburukan PKS semata, maka blog ini tak dapat mengelak dari tanggungjawab.

Alih-alih mengkritisi PKS, namun secara tak sadar, blog ini membuka peluang untuk usaha menggerogoti gerbong dakwah, sebagaimana yang ditegaskan PKS sebagai : Partai Dakwah (yang menurut blog ini masih kontroversi).
Ingatlah, penghancuran jauh lebih mudah daripada pembangunan.


Saya berdoa, semoga ketulusan dan kejujuran, sebagaimana yang ditulis di deskripsi blog ini, selalu menjadi dasar setiap kali blogger dan pengunjungnya menulis nasehat/kritik.

Saya juga berdoa, semoga nasehat/kritik yang terkandung di dalam blog ini memberi kontribusi positif terhadap gerakan Islam/ gerakan dakwah (khususnya PKS). Dan, kekritisan pengunjung blog ini, mampu mengeliminasi efek buruk yang semoga tak terjadi : putusnya ukhuwah, dan saling curiga diantara kader dakwah. []

Semarang, 12 Februari 2005















Diposkan oleh doniriadi.blogspot.com Thursday, February 02, 2006

9 komentar

  1. pandir Says:
  2. Sikap kritis jangan pernah hilang untuk hamba2 Alloh yang dinamis namun kekritisan itu tetap harus dihiasi kepandaian menghargai hasil kerja orang lain karena dimanapun belahan bumi tidak ada manusia yang sempurna

     
  3. okiaryono Says:
  4. This comment has been removed by the author.  
  5. Anonymous Says:
  6. setelah berkelana antara pks watch dan pks menjawab, tulisan ant ini bagai "embun pago" yg menyejukkan jiwa,
    jzakillah

     
  7. Politik Kita Says:
  8. Saya setuju dengan berdakwah, tapi saya sangat tidak setuju dengan dakwah dengan tujuan politis... Rasulullah tidak pernah melakukan dakwah dengan tujuan politis, namun rasulullah berdakwah hanya untuk menyempurnakan akhlak "innama buitstu liutammima makarimal akhlak" "sesungguhnya saya diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak"

    Rasulullah tidak pernah dakwah politis padahal waktu itu memang dibutuhkan politik tingkat tinggi untuk menaklukan kafir quraisy... Saya juga pernah ketemu Politisi PKS yang jadi Anggota DPR RI dan beliau senior saya swktu di UIN Jakarta, namanya Bang Syafrizal.

    Sewaktu itu (tahun 2008) saya meminta bantuan untuk kegiatan kemahasiswaan dan yang sangat mengecewakan adalah dia tidak membantu sepeserpun. tetapi saya mencoba memancing dengan mendatangkan akhwat yang mantan KAMMI dan dia ngobrol banyak... eh ternyata dikasih... memang PKS itu Partai Kalangan Sendiri... sangat tertutup

     
  9. cevi Says:
  10. Tugas kita didunia ini adalah membangun peradaban .Hal itu bisa dilakukan dengan membangun kekuatan untuk untuk mendapat kekuasaan.Dengan kekuasaan kita bisa melakukan pembenahan di segala bidang.Bukankah ini bagian dari da'wah.Apapun tentunya bagaimana niat awal kita.Tujuan sama dengan niat beda tentu itu beda.Politik,kekuasaan itu bagian dari cara dan strategi

     
  11. muhara Says:
  12. Kenapa ya setiap kritik baik dengan bahasa halus maupun kasar thd PKS mesti dibalas dengan cap menjelek-jelekkan, memecah belah umat, peribahasa 'gajah di ufuk tidak terlihat tetapi kutu di depan mata sangat jelas', permintaan introspeksi diri, bahkan ghibah & fitnah oleh pengkritik dll bukannya dibalas dengan argumen2 syar'i dan masuk akal?

    Kalo tidak ada pengkritik lalu sistem kontrol PKS ini apa? orang2 PKS kan juga manusia yg ga ma'shum..

     
  13. banialkahfi Says:
  14. hehehe...kemanusiaan bg PKS jadi hal utama, kalau ada bencana paling cepat kemanusiaan bukan perikemayatan karena waktu di Aceh PKS gak suka ambil mayat, laskar ama marinir yg ambil mayat. kata org karena mayat itu besok gak bisa ikut PEMILU ........

     
  15. Anonymous Says:
  16. Masya'ALLAH.......!

     
  17. masih banyak yang harus dibenahi, terlepas apapun yang dihadapi PKS saat ini,, kami hanya menyampaikan salam dari celg PKS Kalbar satu kursi untuk seniman

     

Subscribe here

Better Place For Children