(Dimuat di Suara Merdeka, 14 Februari 2006)

Di awal tahun 1427 Hijriah ini, dunia menyaksikan apa yang disebut dengan solidaritas Islam. Umat Islam di belahan bumi utara dan selatan, serentak menyatakan kemarahannya, atas penistaan terhadap Nabi SAW dalam bentuk karikatur yang diterbitkan di media massa Eropa. Diawali dari Jyllands Posten, Denmark dan terus menyebar ke media di daratan Eropa mayoritas seperti Jerman, Perancis, Italia, juga Norwegia, Swiss, Austria, Swedia, dan Spanyol.

Pelecehan ini bukanlah yang pertama. Umat tentu masih belum lupa dengan versi lengkap pelecehan dalam “The Satanic Verses”-nya Salman Rushdie pada tahun 1988. Fatwa hukuman mati untuk Rushdie dari pemimpin Iran bahkan belum dicabut. Hingga saat ini, Rushdie juga masih dalam perlindungan pemerintah Inggris.

Yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa perlakuan negatif terhadap Islam ini selalu terulang ? Betulkah pemahaman yang salah tentang Islam menjadi faktor penyebab utamanya ? Jika iya, maka itu berarti kemajuan peradaban Eropa, yang dipuja-puja itu, tidak mampu menyuplai informasi yang benar tentang Islam dan umat muslim.

Islam dan Peradaban Eropa
Pemahaman yang salah tentang Islam sangat dipengaruhi oleh sejarah asupan infomasi dan perkembangan peradaban. Untuk mengetahui pola berpikir masyarakat Eropa terhadap Islam, maka terlebih dahulu kita merunut asupan informasi yang diperoleh Eropa tentang Islam, khususnya Al-Quran. Karena, Al-Quran-lah sumber informasi yang paling shohih jika ingin mempelajari Islam.

Dalam Muqaddimah Al-Quran dan Terjemahannya (2003), disebutkan bahwa sebelum berkembangnya bahasa-bahasa Eropa modern, yang berkembang di Eropa adalah bahasa Latin. Oleh karena itu, terjemahan Al-Quran dimulai kedalam bahasa Latin dan justru bukan oleh orang Islam sendiri. Montgomerry Watt, dalam bukunya “Bell’s Introduction to the Qur’an” menyebutkan bahwa pertanda dimulainya perhatian Barat terhadap studi Islam adalah dengan kunjungan Peter the Venerable, Abbot of Clugny ke Toledo pada abad ke-12. Diantara usahanya adalah menerbitkan serial keilmuan untuk menandingi kegiatan intelektual saat itu, khususnya di Andalusia. Sebagai bagian dari kegiatan tersebut adalah menerjemahkan Al-Quran ke dalam bahasa Latin yang dilakukan oleh Robert Ketton pada 1143.

Abad renaissance di Barat memberi dorongan lebih besar untuk menerbitkan buku-buku Islam. Pada awal abad ke-16, selain buku-buku Islam, text Al-Quran juga diterbitkan, diantaranya pada tahun 1530 di Venice (Italia). Terjemahan dalam bahasa Jerman (1616), bahasa Perancis oleh Du Ryeer (1647), bahasa Inggris oleh Alexander Ross (1649) dan George Sale (1812), dan bahasa Rusia di St. Pittersburg (1776).

Penerjemahan Al-Quran di Eropa didasari oleh dua hal, yaitu untuk kebutuhan ilmu pengetahuan dan untuk mendiskreditkan Islam. Ludovici Maracci, selama 40 tahun mempelajari Al-Quran dan menerbitkan karyanya pada 1689. Isinya, sebagian besar memberikan kesan buruk terhadap Islam. Karyanya itu, ia persembahkan kepada Emperor Romawi dan diberi pengantar yang isinya sebagaimana apa yang ia katakan sebagai “Bantahan terhadap Alquran”

Untuk menjaga kemurnian kandungannya dan meng-counter propaganda, para cendikiawan Islam kemudian menerbitkan terjemahan Al-Quran dalam perspektif muslim. Terjemahan Al-Quran yang terkenal di dunia barat dan timur adalah terjemahan Abdullah Yusuf Ali, “The Holy Qur’an : Text, Translation, and Commentary” yang telah diterbitkan berulang kali menyusul penerbitan pertamanya pada tahun 1934.

Jadi sebenarnya, Eropa telah lama bersinggungan dengan peradaban Islam. Eropa bahkan lebih dahulu mengenalnya daripada Amerika. Perpustakaan besar yang pernah didirikan di Cordova, Spanyol adalah bukti yang tak terbantahkan. Karena itu, dalil tidak adanya literatur dan data yang cukup bagi Eropa untuk memahami Islam tidaklah sepenuhnya benar. Terlebih, telah banyak tafsir dan biografi (siroh) Muhammad SAW yang diterbitkan dalam bahasa Inggris dan menjadi best seller.

Peradaban Eropa juga mencatat di episode Perang Salib, betapa terperangahnya King Richard “The Lion Heart” saat mengetahui seorang Sholahuddin Al-Ayyubi menyusup masuk ke tendanya hanya untuk mengobati dirinya agar keesokkan harinya mereka dapat bertempur kembali. Panglima Islam itu tak mau memilih jalan pengecut, dengan membunuh lawannya saat lawan masih tak berdaya.

Jadi jelas, visualisasi diri Nabi Muhammad SAW pada karikatur yang melecehkan adalah buah dari kesengajaan bukan karena ketidaktahuan atau kebodohan. Sebagian umat Islam meyakini bahwa ulah tersebut merupakan bukti pemikiran kuno, adanya sebagian nasrani yang enggan mengakui Ahmad (Muhammad) sebagai Nabi seperti yang disampaikan oleh Nabi Isa AS dalam Taurat dan Injil.

Semua orang dibelahan bumi, tidak hanya muslim, dan apalagi seorang jurnalis, mengetahui bahwa wajah Nabi Muhamamd SAW tidak boleh divisualisasikan. Kesepakatan itu diamini oleh seluruh aliran di dalam Islam. Tidak ada tawar menawar.

Ini disebabkan karena Islam, sebagaimana yang ditegaskan Nabi Muhammad SAW, melarang kultus individu, termasuk para nabi dan orang-orang suci. Itu karena kultus mengarah kepada penyembahan, sementara menyembah selain Allah SWT adalah syirik, dan syirik merupakan dosa terbesar di dalam Islam. Syirik dapat meruntuhkan atau menggugurkan ke-Islaman seseorang.

“The Message” Vs “The Passion of the Christ”
Penggambaran wajah Nabi SAW, sebenarnya merupakan pemaksaan cara berpikir pola Barat (Nasrani). Kultur Barat tak melarang visualisasi wajah dan diri Al-Masih (Nabi Isa AS).

Karena itu, film berjudul “The Passion of the Christ” produksi Mel Gibson’s Film yang diluncurkan saat Natal dua tahun lalu, diperankan oleh seorang aktor, James Caviezel. Alhasil, publik tampak mengerutkan keningnya saat “sang tuhan” mengaduh kesakitan saat dipaku, disalib, dan diberi mahktota berduri. Dan. kritik terbesar atas fim itu justru bukan dari kalangan Islam, melainkan langsung dari Vatikan.

Islam sendiri meyakini, bahwa Nabi Isa tak pernah disakiti sedemikian rupa. Dalam QS. An-Nisaa :157, Allah telah mengganti Nabi Isa AS dengan orang yang serupa dengannya. Lalu, ini yang penting, Allah menanamkan keraguan kepada mereka tentang siapa sebenarnya yang mereka salib itu.

Sementara, film terbaik yang menceritakan diri Nabi Muhammad SAW dengan detil hingga detik-detik kematiannya, hingga saat ini masih dipegang oleh “The Message” yang diterjemahkan menjadi “Ar-Risalah” yang diproduksi tahun 1976 dan disutradarai Mustapha Akkad. Aktor utama film ini, Antony Quinn, seorang kulit putih, tidak memerankan Nabi Muhammad SAW, tetapi salah satu sahabat beliau. Sepanjang durasi 3 jam film ini, tidak didapati barang sedetik pun wajah Muhammad SAW. Sutradaranya dengan cerdik, menggunakan teknik-teknik kamera untuk mewakili karakter Muhammad SAW.

Dalam prinsip Islam, jika wajah Nabi Muhammad SAW saja tak dapat divisualisasi, maka apalagi wajah Allah SWT, Tuhan yang menciptakan Nabi Muhamamd SAW. Seorang muslim meyakini, --selain Nabi Muhammad SAW saat di Mi’raj-kan naik ke surga--, tidak ada satu orang manusia hidup pun yang pernah melihat wajah Allah, kecuali nanti di surga. Sehingga visualisasi wajah Allah, atau sosok yang dianggap Allah (seperti anggapan Nasrani saat ini terhadap Al-Masih), tidaklah masuk diakal dan cenderung menyesatkan.

Kemarahan Umat Muslim
Selain karena faktor akidah (prinsip terdasar), kemarahan umat Islam juga didasari oleh besarnya rasa kecintaan umat kepada diri nabi Muhammad SAW. Kecintaan ini merupakan konsekuensi dari komitmen mengucapkan kalimat syahadat yang kedua, yaitu mengimani Muhammad sebagai Rasulullah.

Seorang muslim mengenang di dalam hatinya, kesederhanaan dan kebersahajaan Rasulullah. Saat wafat, beliau tak mewariskan harta apapun kepada sanak keluarganya. Yang ia wariskan hanyalah karakter kepemimpinan, prinsip kebersamaan, keindahan perilaku, kejujuran, dan nilai-nilai Islam lainnya sebagai bekal kehidupan di dunia dan bekal kehidupan setelah kematian.

Rasullullah-lah orangnya yang belum pernah merasakan kasih sayang seorang ayah, karena sang ayah telah wafat sejak ia masih dalam kandungan. Begitu juga dengan sang bunda saat ia masih kanak-kanak. Kehidupan keras padang pasir membuatnya harus bekerja sejak dini untuk menyambung hidupnya, tak menyisakan waktu baginya untuk belajar baca-tulis.

Beliau pula yang mengganjal perutnya, untuk menahan lapar, karena tak memiliki sedikit makanan untuk dimakan namun beliau malu untuk mengatakan, karena para sahabat-sahabatnya pun sama demikian.

Beliau-lah yang tidur di alas tikar pandan, sehingga saat bangun orang dapat melihat bekas-bekas alas tikar di sekujur tubuhnya. Namun demikian, Rasulullah adalah orang yang paling dermawan. Ia masih suka mengulurkan tangannya. Memberikan seluruh rizki yang ia miliki pada hari itu untuk orang-orang yang menengadahkan tangannya kepada beliau.

Beliau pula yang mengasihi dan mendoakan orang-orang yang menyakiti dirinya. Beliau gemar memaafkan kesalahan. Meski beliau memiliki kemampuan untuk menghukum dan membalaskan tetapi pintu maaf lebih dulu dibuka lebar-lebar olehnya. Kalaupun harus perang, perangnya Rasulullah penuh kasih sayang. Tak boleh menyakiti anak-anak, wanita, orang tua, bahkan tanaman dan lingkungan.

Umat juga mengenang, beliau-lah orangnya yang saat maut datang menjemputnya, masih sempat menanyakan kabar para umatnya. Kecintaan dan kekhawatiran beliau terhadap umatnya sungguh melebihi kecintaan dan kekhawatiran terhadap diri dan keluarganya sendiri.

Karena itu, melecehkan Nabi Muhammad SAW sangat menggoreskan luka di hati seorang muslim. Mengucap maaf saja mungkin cukup bagi satu muslim tetapi tidak bagi muslim yang lain.
Terlebih, pascademonstrasi umat Islam, karikatur itu tetap dipublikasikan kembali oleh negara-negara lain seperti Inggris, AS, dan Selandia baru. Arogansi khas barat juga sangat menyesakan hati, pernyataan penyesalan Menlu Denmark atas pemuatan karikatur itu tapi menolak untuk minta maaf dengan dalih kebebasan pers, membuat umat beranggapan bahwa mereka tidak benar-benar tulus dalam minta maaf.

Radikalisasi sikap akan muncul saat pemerintah atau lembaga yang berwenang terkesan membiarkan dan tak cukup tanggap dalam bersikap. Di dalam negeri, sikap ini justru akan menimbulkan konflik horiziontal, khususnya jika polisi kurang sabar dalam menghadapi demonstran yang geram.

Karena itu, pernyataan Hidayat Nur Wahid agar umat Islam tak melakukan tindakan anarkis dalam berdemonstrasi sangatlah tepat. Selain karena bukan polisi yang menjadi sasaran, tindakan anarkis dan kerusuhan justru merugikan citra umat Islam sendiri. Pemuatan karikatur itu bisa saja memang disengaja untuk memancing anarkisme demonstran, yang pada akhirnya menjadi bumerang bagi umat Islam. Pengrusakan dan penghancuran akan membenarkan tesis bahwa Islam melegalkan anarkisme.

Namun , jika kita berpikir jernih, maka kasus karikatur ini sebetulnya membuka sebuah tantangan berharga. Jika solidaritas umat begitu kukuh karena didholimi, maka bisakah umat menggunakan solidaritas yang sama untuk memperkuat basis perekonomian, kesehatan, pendidikan, dan memerangi kemiskinan ? Setidaknya, di negeri sendiri. []

(writed by Doni R)

Diposkan oleh doniriadi.blogspot.com Monday, February 20, 2006

1 Responses to Telaah Kasus Penistaan Nabi Muhammad SAW : MENGAPA UMAT MUSLIM MARAH ?

  1. Jauhari Says:
  2. Saya setuju, mari bersatu bangun Islam

     

Subscribe here

Better Place For Children