Jumat pagi (16/05)
Ada manfaatnya juga berlangganan koran. Selain bisa mengakses info terkini setiap hari. Juga karena hal lain. Memergoki sesuatu. Ya, pagi itu, di halaman 3 koran lokal terbesar di Jateng, memuat sebuah iklan salah seorang Cagub Jateng. Setengah halaman koran. Tidak ada yang istimewa sebenarnya, hingga satu hal menarik perhatian. Ada satu foto di beberapa foto yang digunakan di dalam iklan itu yang terlihat familiar di mata. Tidak salah lagi. Itu adalah foto 'made by us'. Buatan kita. Foto itu adalah foto yang ada di blog Sekolah Alam (foto disamping).

Sontak, sebuah pertanyaan muncul. Kok bisa? Darimana foto itu didapatkan? Bagaimana bisa foto itu sampai bisa ikut nebeng di iklan sang Cagub. Karena kemarin habis online, aku yakin betul, tak ada satupun email yang berasal dari tim sukses sang cagub ataupun nama individu yang berisi permohonan ataupun konfirmasi untuk memanfaatkan foto itu sebagai bahan iklan. Di iklan itu, juga tak disebutkan sumber kutipan fotonya. Jadi, kesannya, semua grafis yang ada disana adalah milik iklan sang Cagub itu.

Dari sudut desain grafis, iklan itu memang tiada cacat. Memanfaatkan moment kenaikan BBM, sang cagub membuat tagline besar : Menolak Kenaikan BBM. Dengan beberapa foto mewakili rakyat jelata seperti petani, anak-anak sekolah, dan ibu yang mendorong sepeda. Iklan itu berusaha mencitrakan sang Cagub sebagai sosok yang merakyat dan didukung lapisan 'grassroot'.

NAmun, apapun bentuk desainnya, tidaklah penting. Yang relevan buat dibahas adalah soal penggunaan foto ibu yang mendorong sepeda itu. Karena foto tersebut tidak diperuntukkan untuk itu. Foto itu kujepret pada Tahun 2006 bulan Juni, dan diposting dalam sebuah artikel di blog Sekolah Alam, yang ku gawangi. Judul postingnya "Kasih Ibu Sepanjang Masa"

Jadi, perkaranya jelas. Iklan itu, menafikan satu hal, yaitu apresiasi terhadap hasil karya orang lain. Sebuah karya komersial, tapi tak melakukan konfirmasi ke pemilik ataupun menuliskan sumbernya. Untuk ukuran sebuah publikasi publik, terlebih Cagub, itu tergolong kesalahan fatal.

TAk ingin gegabah, saya berdiskusi via sms dengan beberapa sahabat. Sebagian besar menyarankan untuk melakukan komplain atas itu. Komplain tertulis.

Saya juga teringat hikmah penting dari 'perseteruan' Bang Jonru (owner penulislepas.com) dengan redaktur majalah Tempo. Tersengat pada sebuah pemberitaan tentang sastra Islami (mengkritisi novel AAC Kang Abik) yang mengutip kata-katanya tanpa konfirmasi, Jonru 'energik' menuliskan protesnya. Lalu, diposting di milis Penulis Lepas. Dan, dalam sekejap 'insiden' itu menyebar dan berkembang menjadi persoalan pelik. Saling korek mengkorek kesalahan. Karena banyaknya koment yang memojokan majalah Tempo, maka Tempo pun akhirnya melakukan 'perlawanan'. Mereka mnyodorkan satu fakta penting, bahwa Jonru tidak atau belum mengirimkan hak jawabnya ke media itu. Jalan elegan yang biasa ditempuh jika merasa terdholimi oleh sebuah media. Maka, dari posisi yang sebelumnya benar, Jonru kemudian harus menghadapi persoalan yang tak mengenakkan. Berdebat panas dengan media, dengan sesama rekan jurnalis.

Dalam kasus saya ini, sebenarnya bisa saja ia menjadi sebuah bola liar. Atau dengan kata lain, menjadi bahan untuk "black campaign". Tinggal kirim saja selembar surat pembaca atau release ke media, maka buum... banyak pihak akan kebakaran jenggotnya. Tapi, itu jelas bukan perilaku politik santun. itu bertentangan dengan moral politik yang selama ini saya pegang. Jadi, saya memutuskan untuk mengklarifikasi langsung ke tokohnya. Adapun langkah selanjutnya, tergantung pada respon sang tokoh.

Jumat Siang.
Alamat maupun no contact person sang Cagub atau Tim Suksesnya belum berhasil kudapatkan. Surat complain juga belum kubuat. Siang itu, saya lebih berkonsentrasi pada pekerjaaan mengedit tulisan yang harus diselesaikan secepat mungkin. Ditengah kepadatan, si 'darah rendah' kambuh. Ambruk deh hari itu. Bahkan hingga malamnya yang seharusnya aku berangkat ngaji, kupakai buat 'tidur'. Sebab, satu-satunya obat yang bisa menetralisir serangan itu, ya cuma tidur. Alhamdulillahnya, editing sudah 80% selesai. Jadi tak begitu berakibat buruk.

Sebuah SMS masuk. Isinya yang kucari-cari. Nomor contact sang cagub, tiga biji sekaligus. Si Fira (sebut saja begitu) benar-benar seorang anak humas yang tangguh. Perannya menjadi Humas sebuah organisasi mahasiswa ekstra kampus membuatnya memiliki database stakeholder cukup banyak, termasuk memperoleh no. telpon sang Cagub ini. Sebuah kesempatan terpampang di depan mata. Nelpon langsung atau mengirim SMS saja, langsung ke beliau, sang Cagub.


Sabtu Pagi (17/5)
Menjalankan rutinitas. Mendampingi anak-anak eskul Jurnalistik di sebuah sekolah swasta beken. Seusainya, aku sempat online dan mencari di search engine alamat Tim Sukses atau Sang Cagub Center. Hasilnya...nihil. Berarti, pilihan yang tersisa adalah menggunakan ketiga nomor seluler yang kemarin kuperoleh. Rencana menulis surat, ku pending.

Sabtu Sore.
Sebelum kehilangan moment, dan juga atas saran si Fira, akhirnya saya memutuskan untuk memulai hubungan. Saya mengirimkan SMS. berikut petikan dialog didalamnya (kurang lebih seperti ini) :

T : "Asswrwb. Dengan mengucap bismillah saya menulis SMS ini. Dengan pertimbangan bahwa bpk XX adalah tokoh yang memiliki kredibelitas dan bisa menghargai hasil karya orang lain. Bahwa, saya kaget karena iklan bpk di koran X kemarin memuat foto saya, tanpa konfirmasi sebelumnya atau menuliskan sumbernya. Apakah SMS ini cukup? Ataukah harus menulis surat? Ditujukan kemana alamatnya? --doniriadi, seorang guru-- "

Tak lama, sebuah jawaban masuk.

J : "Foto apa ya?" --XX-- (menyebutkan inisial namanya)

T : "Foto seorang ibu yang sedang mengantarkan anaknya ke sekolah. itu ada di iklan bpk, yang setengah halaman di koran X kemarin. Saya sudah cek seluruh email dan juga telpon dikantor, tapi tidak ada konfirmasi soal itu."

J : "Maaf bu, yang buat biro iklan. nanti saya tanyakan. Di foto di daerah mana?"

T : "Saya mas, pak. Itu foto di semarang sini. Foto itu ada di blog sekolah saya. Sebenarnya untuk kepentingan nonkomersial, ga masalah. Tapi dalam hal ini, agak beda."

J : "saya minta maaf. nanti saya tanyakan ke biro iklannya."

T : " iya pak. Saya menunggu konfirmasi lebih lanjut. Maaf jika telah mengganggu waktunya."

Hemm... dari jawabannya itu, nampaknya sang Cagub memiliki itikad baik. Jadi, bersabar diri kayaknya menjadi pilihan buat saya di langkah berikutnya. Sabar menunggu konfirmasi.

Minggu, Senin, Selasa, Rabu
Empat hari berlalu tanpa konfirmasi baru.

Kamis Pagi (22/5)
Pagi di hari itu, saya memutuskan untuk mengirimkan sebuah SMS reminder ke beliau.
T : "Pak XX, dapatkah hari ini atau besuk, saya mendapatkan konfirmasi lebih lanjut soal foto saya itu. Saya masih ingin solusi win-win solution, walaupun teman2 banyak menyarankan untuk bicara di media. Selama bisa dibicarkan secara kekeluargaan, saya lebih suka cara itu. Semoga spiritnya Bpk juga sama."

dan memperoleh jawaban :
J : "SAYA SUDAH MINTA PADA YANG NGURUS SUPAYA FOTO ITU DIGANTI"

Wah, penggunaan huruf kapital pada sms itu pertanda beliaunya tidak nyaman dengan permintaan bernada tekanan dari sms-ku sebelumnya. Saya pun berpikir keras untuk menemukan seperti apa jawaban yang harus saya berikan. Akhirnya, saya pun menulis begini :

T : "Ya, begitu memang lebih baik. Pertanyaannya, bagaimana dengan foto sebelumnya yang terlanjur digunakan dan dipublikasikan?"

Beliau menjawab pendek, tak lagi dengan huruf kapital :
J : "akan saya bicarakan lagi nanti"

T : "Terima Kasih", jawabku sopan.

Beberapa menit setelah SMS terakhir itu, saya menerima sebuah call langsung. Dari seseorang yang bernama Pak Handri (sebut saja begitu). Dari caranya bicara, beliau ini sepertinya orang yang bertanggung jawab langsung terhadap iklan itu. Sebuah nama Biro Iklan yang bermarkas di Jakarta, disebutnya saat mengenalkan dirinya di awal pembicaraan. Intinya, kami mengatur waktu untuk sebuah perjumpaan. Well, ini sebuah progress yang bagus.

KAmis Sore
Setelah beberapa kali mengubah rencana jam pertemuan, akhirnya sekitar pukul 17.00 WIB, saya bertemu dengan Pak Handri, di Sekolah Alam. Beliau berdua bersama seorang rekannya. Saya, sendiri saja. Karena jam segitu, sekolah memang sudah sepi.

"Selamat datang di Sekolah Alam", ujarku menyambut sambil menjabat tangannya. Sejenak, kami kemudian bicara-bicara tentang Sekolah Alam. Pak Handri menyatakan ketertarikannya dengan tampilan sekolah yang memang rada tidak biasa ini. Di halaman belakang, anak-anak kampung dekat sekolah sedang main bola. Ust. Nurul (Pembina Yayasan) belakangan juga datang. Itu adalah kegiatan rutin beliau di sore hari, mengecek kondisi sekolah. Dan, Pak Handri pun kuajak ke halaman belakang. Di sana ada sebuah saung. Di situ kami bicara.

"Pak Doni di sini guru apa?" tanya PAk Handri.
"Wahh...guru apa saja pak. Komputer, Inggris, juga klub fotografi" jawabku sambil nyengir. Wah, kayaknya PAk Handri ini bukan 'orang sembarangan'. Sikapnya sejak semula selalu simpatik. Ramah. Dan penuh senyum. Dan pertanyaannya untuk mengetahui siapa lawan bicaranya itu menunjukkan bahwa beliau ini sudah terbiasa dengan tatap muka atau negosiasi. Ya, karena seorang negosiator perlu tahu seberapa kompeten lawan bicaranya. Bicara dengan orang yang tepat, itu kunci keberhasilan sebuah proses negosiasi. Dan, dugaan ini menjadi benar adanya. Karena kelak di tengah pembicaraan, beliau juga mengutarakan bahwa selain di dunia advertising, juga menjadi dosen komunikasi di sebuah Universitas.

Dan, beliau pun menegaskan posisi dirinya, dengan mengatakan, "Mas Doni, saya adalah orang yang paling bertanggungjawab terhadap produk iklan itu." Hmm... Jadi, ini adalah sebuah pertemuan puncak, final. Apapun hasil pertemuan ini, maka itulah hasil akhirnya. Efektif!

Secara ksatria, PAk Handri mengakui kesalahan yang dilakukan timnya sekaligus meminta maaf atas kesalahan itu. "Kita juga biasanya membeli beberapa foto, seperti dari AP (Associated Press). Tapi, karena mungkin overload pekerjaan dan deadline menyebabkan kekuranghati-hatian" . Didepan saya, beliau juga langsung 'ngebel' kru-nya, sang desainer grafis, memberitahu bahwa kami sedang melakukan pembicaraan. Bahkan ponsel sempat diberikan pada saya, agar dapat bicara langsung dengan sang desainer. Awalnya saya menolak, namun karena ingin menghormati tamu, maka saya pun akhirnya bercakap sebentar via ponsel dengannya.

Kedatangan Pak Handri ke sekolah, adalah sebuah itikad baik dan patut di apresiasi karenanya. Terlebih beliau juga menambahkan ucapan terima kasih atas jalan dialogis yang saya lakukan.
" Ya, itu yang memang semakin jarang dilakukan bangsa ini. KAlo ada konflik dikit langsung brak-bruk gitu, padahal selama masih bisa didialogkan kenapa tidak pilih jalan itu." ujarku.

Dalam kesempatan itu, beliau juga menjelaskan posisinya sebagai biro advertising yang turut berkancah dalam 'perang iklan' di bursa Cagub Jateng 2007. Bahwa Pak XX, sang Cagub, tidak memiliki korelasi langsung dengan iklan yang dipasang, karena klien yang memesannya atas nama orang lain. Jadi, meski diuntungkan, PAk XX tak begitu mengetahui detail segala sesuatunya. Hal itu, disampaikannya saat saya menyampaikan secara terbuka, bahwa pada dasarnya saya memiliki aspirasi politik yang berbeda dengan PAk XX, sehingga sangat terbuka peluang buat saya untuk menjadikannya sebagai bahan 'black campaign' di komunitas kecil (komunitas terpelajar). "Tapi, itu juga tidak mungkin saya lakukan, karena bertentangan dengan prinsip moral politik saya" kataku berterus terang.

Pembicaraan berlangsung menarik. Mulai dari kualitas sebuah iklan hingga kelemahan hukum cyber di Indonesia. PAk Handri betul-betul menguasai bidangnya. Bahkan saat saya berkomunikasi dengan bahasa nonverbal, melalui gestur, dengan cara diam dan menatap wajahnya saat ada jeda diantara obrolan, beliau langsung memahaminya.
Ia berkata" Kami telah datang, dan juga telah meminta maaf pada mas doni. Kira-kira apa lagi yang bisa kami lakukan supaya memuaskan mas Doni?" Hahaha... orang humas banget nih. Ia mampu membaca apa yang ada di kepala orang. Menyenangkan.

Setelah pertanyaan atau penawaran halus itu dilontarkan, diskusi berarti sudah dipenghujung selesainya. KAmi memasuki babak penting pembicaraan, yaitu solusi akhir.
"Sebenarnya, jika untuk maaf, PAk XX, sejak hari pertama telah mengirimkan SMS permintaan maaf. Dan sejak awal pula saya telah membuka pintu maaf itu. Jadi, secara moral sudah nggak menjadi masalah. Apalagi diikuti dengan langkah bagus, dengan tidak lagi memasang foto itu di iklan berikutnya. TApi, yang perlu dibicarakan, karena iklan itu karya profesional, maka perlu juga ada apresiasi profesional, untuk foto yang telah terlanjur terpasang dan terpublikasikan" jawabku.

"Apresiasi profesional ya?" kata Pak Handri sambil berpikir. "Seperti apa tuh bentuknya?" tanyanya. HAhaha... kami tertawa. Sulit dijelaskan. Siapa yang sedang menguji siapa nih... Sebuah pengukuran cara berbicara sedang terjadi secara tidak langsung di sini.
"Saya besar di lingkungan yang tak terbiasa dengan menyebutkan apresiasi dalam bentuk angka, jadi saya kembalikan ke kebijaksanaan PAk Handri saja" kataku mengembalikan pertanyaan.
"Tidak bisa begitu" jawabnya cepat. "Kalo bicara profesional harus jelas angkanya" katanya lagi.

Skak mat deh guwe. Di titik kritis itu tiba-tiba saya menemukan sebuah ide.
Saya pun memberanikan diri berbicara, "Saya tentu tidaklah seprofesional para fotografer AP, sehingga saya juga tahu diri untuk tak terlalu minta berlebih. TApi, saya berharap pertemuan ini membawa keberkahan, paling tidak buat murid-murid saya. Saya tidak berambisi untuk mengambil keuntungan secara pribadi. Sebab, foto itu ada karena obyeknya di sekolah ini. Jika, bapak tidak keberatan, mungkin bapak bisa membantu saya dan murid-murid di Klub Fotografi. Selama ini karya-karya mereka baru bisa 'ngendon' di PC dalam bentuk softcopy. Menjadi cukup berarti bagi kami, jika karya kami itu bisa berubah wujud menjadi karya yang dicetak (offprint). Sehingga nanti bisa kami tampilkan di Gelar Karya"

Setelah beberapa kali penjelasan teknis, akhirnya PAk Handri berkata, "Oke. Saya bersedia. Secara moral dan profesional" ^_^ Saya, kemudian menjanjikan pada beliau untuk mengirimkan nomor rekening yang bisa digunakan via sms. Sampai percakapan itu berakhir, kami tidak berbicara angka yang jelas. Tak menjadi masalah buat saya, karena saya telah menggantungkan sebuah kepercayaan padanya. Kurasa, PAk Handri cukup bisa menggunakan kepercayaan itu dengan mengukur seberapa besar nominal yang pantas sebagai konsekuensi percakapan ini. ( Kelak, di malam harinya Pak Handri menepati janjinya mentransfer sejumlah uang ke rekening. Jumlahnya? Ya...cukuplah! Tak terlalu sedikit tapi juga tak terlalu banyak... Cukupan...^_^)

PAk Handri dan rekannya saya antarkan ke gerbang. Langit sudah menggelap. Azan MAghrib pun telah berkumandang. Dari dalam mobilnya, PAk Handri mengacungkan jempolnya. Saya tersenyum menjawabnya. Saya betul-betul mendapatkan pelajaran berharga hari ini. Dari orang yang ahli dibidangnya.

Tiba-tiba... sebuah kalimat pendek tercipta di benak. "Dari satu foto lahirlah ratusan foto karenanya". Alhamdulillah! Semangat...Semangat!....

So, Case Closed! ^_^

Diposkan oleh doniriadi.blogspot.com Saturday, May 24, 2008

6 komentar

  1. imam sarjono Says:
  2. Pak doni...........
    ajungan dua jempol buat bapak !!!!
    sabar, ikhlas, profesional dan menghasilkan tapi bukan matre.
    SUKSES !!!!!

    (tapi boleh dong aku pake fotonya untuk belajar ngeblog...)

     
  3. Baca ini, saya jadi mikir. Jika di industri koran, pas mendekati deadline naik cetak, dan belum ada foto seorang tokoh, misalnya, sering conot dari google atau yahoo. Tinggal kasih caption "net" di bawahnya. Itu termasuk pencurian karya profesional ga ya? :)

    Tapi, bagaimanapun, mas Doni ini memang Humas luar biasa. Hanya orang yang belajar komunikasi efektif bisa membaca pikiran orang melalui mimik, gestur dan kedipan...

     
  4. buat pak imam ---> alhamdulillah pak...semoga menginspirasi. trims jug atas advices-nya selama ini....hehe. Sukses juga ya pak!

    (boleh banget pak..monggo....^_^)

    buat akh amin ----> hihi..nyantai bro, selama dicantumin sumbernya no problem banget....^_^

    ya, ini jg buah dari kemarin2 kita belajar bareng di org. pergerakan mhs. intinya, ilmu itu memang tak akan pernah menemukan akhirnya...berbuah selalu...
    Sukses juga untukmu...

     
  5. intan Says:
  6. Wah Pak Doni OKE banget...
    Sampe rada merinding saya bacanya...seru banget...
    Andai jari ini jempol semua...kak ancungkan semua wis...
    Sukses ya PAK !!!.........

     
  7. buat bu intan ----> hahaha..^_^ bu intan ni bisa aja...nggak la..aku cuma ngelakuin sebagaimana orang memang harus melakukannya...nothing special kok bu...tapi, seru juga emang..hehe...

     
  8. wah...
    jujur aja, buat saya, tulisan ini auranya tu "humas" banget lah...
    nggak ada grasa grusu, smua ada aturan mainnya...
    hmmm...
    ok banget d pak..

     

Subscribe here

Better Place For Children