bismillah,

Benar adanya...,kejujuran alias as-sidqie alias honesty berbuah ketenangan jiwa.
sore ini (31/11), aku baru saja mempraktekkanya.

I beat the the devil...!

ceritanya,
aku menemukan sebuah hape.
hape bagus, nda...

Aku menemukannya setelah ngajar eskul fotografi anak-anak SMP SAA.
Atau lebih tepatnya, setelah perjalanan ke "Madura", alias potong rambut gitu lox..

Saat ditemukan, hape-nya berantakan. Batere dan chasingnya lepas. Maka, kurangkailah dia.
Ternyata itu tipe hape high end. colour...dual band (dual simcard), bisa dengerin radio fm, ada mp4 playernya, ada cameranya, dan screennya lebar...

Langsung deh, dua 'makhluk' pada nyamperin...
yang satu merah dan bertanduk , pake tombak...
nyang satunya lagi, putih-putih ada sayapnya di punggungnya
(halah..! iki kakean nonton film Holywood yo..^_^. Visualisasi setan dan malaikat yang keliru keblinger)

si Devil, sebut saja begitu, dengan tangkas bilang," Rezeki, boss!"
si Angel, tangkas pula menukas, "Rezeki gundulmu kuwi! Bukan hakmu yooo...wek 'e uwong yo.."
dan bla...bla...bertengkar beradu argumenlah mereka....

Simaklah, satu petikan dialog mereka,
Devil, berpendapat, "itu resiko orang lalai, tidak hati-hati memelihara aset yang diamanahi oleh Allah padanya. Kalo ditemukan orang, yo berarti orang itu udah dipilih untuk ganti merawatnya. Sing Menemukan yo pewaris sah barang ilang".. Weleh, maut nda, kalimate...

Angel tak mau kalah,"yang namanya manungso kuwi, tempat lalai dan khilaf. Yo, dikasih kesempatan buat memperbaiki diri to yo...Balekno lan dinasehati, ojoh maneh-maneh..." Prikitiw...arif lan wicaksana.

Singkat cerita,
terbingung-bingunglah si manusia, harus memilih di antara dua pilihan.
Antara memilikinya atawa mengembalikannya..

Sebuah 'blink', alias bola lampu ala Alfa Edison kemudian muncul di kepala. Terhamparlah wajah-wajah sedih para manusia malang yang sedang terkena musibah kehilangan.... Mungkin saja mereka telah bekerja keras siang dan malam, banting tulang, dan menabung sedikit demi sedikit untuk bisa memiliki benda yang diidamkan, namun kemudian hilang dalam sekejapan.

Jujur, teringat pula saya, pada seorang murid saya nun jauh disana, yang kehilangan hape-nya dengan sengaja alias kecopetan...deritanya, kesulitannya, tanpa memegang alat komunikasi itu terlihat kentara. Alhamdulillahnya, dasar ia orang beriman, meski kehilangan sesuatutapi tetep saja dimaknai positif... ya, minimal jadi lebih bisa menjaga fitnah dunia...hihi..^_^

Maka, turunlah keputusan untuk mengembalikannya. Mesake' yo..., wis koyo ngono kuwilah intinya.

Tapi, blais...
Hapene di kunci password yoo....baterene low batt sisan..
Jadi, tak bisa lihat tuh isi hape untuk cari tahu siapa pemiliknya.
Akhirnya kuambil simcardnya dan dibuka hapeku yang low end alias jadul itu...kekeke...

maka, pada seseorang pengirim pesan terbanyak dalam simcard itu, kukirim berita penemuan itu. (wezzz..koyo opo wae..)

dan lihatlah,
tak selang beberapa lama,
dihadapanku kini terpancar raut muka gembira...
dia adalah sang pemilik hape...
lucunya lagi,
jebule pemiliknya koncone dhewe...alias wong kito pulo...
bukan orang asing yang jauh
hihi...
gembira juga akumelihat wajah gembira.

Aneh, sedesir ketenangan kemudian menghampiri hatiku. Apkah itu karena si Devil merah bertanduk dua itu angkat kaki pergi?

Sang empunya kemudian berpamitan, seraya mengucap terima kasih.
Ehhh, 2 jam kemudian balik lagi ke rumah....
ono opo maneh?
owalah, rupanya dia datang sambil membawa sekeranjang buah-buahan...
hahaha...aya-aya wae...^_^
ya sudah, matur nuwun kami ucapkan balik.

Sebuah premis baru tercipta, dalam sudut pandang tertentu, lebih baik kehilangan sesuatu untuk tetap memiliki sesuatu.Lebih baik memilih kehilangan sesuatu (yang bukan hak saya) agar bisa tetap memiliki Iman di dada. Kita akan kehilangan iman ketika, persis kita mengambil dan memiliki sesuatu, yang bukan milik atau hak kita untuk memilikinya. Posesivitas sejati, rasa kepemilikan sejati, justru dimiliki oleh orang yang ikhlas menghilangkan/kehilangan sesuatu.

Maka, dalam konteks ini, petuah Khalifah Ali ada relevansinya. Khaqlifah Ali berkata, "Orang yang kuat, menjadi lemah dimataku, ketika aku berusaha mengambil sesuatu darinya yang bukan menjadi haknya. Orang yang lemah, menjadi kuat dimataku, ketika aku berusaha mengembalikansesuatu yang seharusnya menjadi haknya.

Maka, pertanyaan lain datang. "Di negeri kita ini, lebih banyak orang kuatnya atau orang lemahnya?"

Thus, tiba-tiba sekelebatan ide mampir dikepala,
hape ini hanyalah barang sepele,
tapi bisa jadi inii hanyalah sebuah miniatur.
ada banyak pertarungan antara Angel dan Devil, baik dan buruk, di kehidupan ini.
Mungkin malah dalam bilangan dan volume yang lebih besar.
Klaim-klaim pemilikan, pengambilan paksa hak-hak orang lain , terlebih hak-hak kaum miskin, perampokan, penipuan, korupsi...semuanya bersumber pada tabiat manusia terhadap nafsu kepemilikan atawa posesivitas semu. Sesungguhnya ini adalah jalan buntu, jalan menjadi orang yang lemah.

maka, doanya, semoga kita semua. diberkahi kemudahan dalam mengakses rezseki yang halal dan thoyyib. Pertarungan abadi itu akan selalu ada, hingga menyisakan satu pemenang. Bilamana hari ini kita kalah, semoga esok-esok kita ganti menjadi pemenangnya...

(nuhun pisan, untuk bahasanya teh, campur aduk...lagi pingin menulis bebas. dan nuhun pula supaya tidak dibaca sebagai ujub, semata hanya untuk saling sharing aja..tawashawbilhaq wa tawashawbilmarhamah...begi
tulah kiranya. )

Doni telah bicara. howgh!

Diposkan oleh doniriadi.blogspot.com Sunday, November 01, 2009 2 komentar


Semua gundah mengumpul hari ini. Membentuk gunung berapi, dengan magma laten yang menggelegak. Tapi, aku tak hendak membaginya semua, sebahagian juga tidak, hanya satu saja.

Yaitu tentang keganjilan dari banyaknya 'tagline' "Bangga Berbahasa Indonesia". Bahkan ada iklannya pula. Satu halaman koran. Dalam rupa 'hape' tersodor ke muka. Seakan hendak berkata, "Nih, Baca! Gue bangga Berbahasa Indonesia".

***

Mungkin terasa mulia dan tak ada salahnya. Tapi, sebenarnya itu menunjukkan kesempitan cara kita berpikir dalam konteks kecintaan terhadap bahasa nasional. Slogan-slogan begini, makin menguatkan saja premis bahwa negeri ini adalah negeri slogan alias simbolistik.

Dalam konteks kekinian, teriakan "Aku Cinta tanah air" saban 17-an, atau "Bangga berbahasa Indonesia" saban 28 Oktober, menjadi kehilangan makna, terutama bila menilisik apa yang kita lakukan sehari-hari sama sekali tidak mencerminkan kecintaan kepada negeri atau bahasa nasional.

Itu setara, dengan konferensi pers yang digelar "markas buaya" yang menggaungkan bahwa tidak ada upaya mengkriminalisasi "Cicak", namun prakteknya para cicak harus masuk bui hari ini (29/10).

Atau setara dengan kalimat gombal "I love you" yang dijual obral. Padahal, sejarah mencatat cinta yang melegenda adalah cinta yang diungkapkan dengan indah tanpa kata.

Dalam efek buruk yang lebih buruk. Tagline "Bangga Berbahasa Indonesia" itu membawa dampak menurunnya semangat pemuda-pemuda Indonesia untuk mempelajari bahasa-bahasa dunia. Tak ada yang meragukan ke-Indonesiaan alm. Hatta atau Natsir. Mereka adalah contoh nyata, pemuda Indonesia yang memiliki banyak kemampuan berbahasa. Dan beliau-beliau itu memulainya dengan belajar bahasa, tanpa pernah mengatakan secara verbal "Aku Bangga Berbahasa Indonesia". Sebab, kebanggaan itu adalah sesuatu yang tertanam di hati dan terpancar melalui tindakan. Omongan 'toktil' tak memberikan sumbangsih apapun terhadap kemajuan bangsa dan bahasa Indonesia.

Maka, betapa sedihnya saya, ketika seorang murid saya (semoga hanya terjadi pada saya) mengatakan bahwa ia tak hendak belajar bahasa asing, karena ia hanya cinta Indonesia dan hanya ingin belajar bahasa Indonesia. Mungkin saja ia berdalih dan berlindung dibalik kata-kata magis "Bangga Berbahasa Indonesia" padahal sejatinya ia mengalami kesukaran menguasai bahasa asing. Tapi apapun itu, tanpa disertai pencerahan yang memuaskan, slogan "Bangga Berbahasa Indonesia" berpotensi menyesatkan.

Sekarang, sudah tidak lagi relevan mencintai bahasa Indonesia hanya dengan slogan-slogan semata. Kecintaan kepada bahasa nasional justru ditampakkan oleh orang-orang yang selama ini tidak banyak 'berkoar-koar" namun menunjukkan kerja nyata. Berapa banyak kitab-kitab dan buku berbahasa asing yang kini bisa dinikmati dalam bahasa Indonesia. Kita berhutang pada mereka, pada para penerjemah itu. Berkat kegigihan mereka mentransformasi pengetahuan ke dalam bahasa Indonesia, kita dapat dengan mudah menyesapi ilmu-ilmu yang terkandung didalamnya. Perhatikan, mereka bisa melakukan semua itu, karena dulunya mereka belajar bahasa asing tersebut. Dan saat mereka belajar bahasa asing, pasti tidak hanya sekali dua, mereka bertutur dan menulis tidak dalam bahasa Indonesia melainkan dalam bahasa asing.

Atau sebaliknya, tulis saja karya-karya besar dalam bahasa Indonesia. Ciptakan syair-syair yang mendunia. Menangkan nobel! Itu relatif lebih masuk akal, ketimbang menyodorkan hape ke muka (meski 'message'nya Indonesia tapi toh teknologi didalamnya milik Finlandia. Note : saya sama sekali tak hendak mendiskreditkan bintang iklan atau vendor hape).

Atau dengan memperbanyak ajang-ajang bertemunya karya sastra dan penghargaan dibidang bahasa/sastra di kalangan pemuda, yang belakangan ini main tergerus oleh budaya 'pop culture' dan hedonisme. Mereka yang bergerak di belakang layar inilah para pejuang bahasa sesungguhnya.

***

Dalam kukungan kolonial, para pemuda 1928 telah membuat sebuah terobosan, 'breaking the rule', dengan menyatakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan atau bahasa nasional. Sebagai media pemersatu atas beribu bahasa yang ada di tanah air. Maka pemuda di masa kini, seharusnya telah memasuki tahap berikutnya: menjadikan bahasa Indonesia sebagai salah satu bahasa global. Tidak lagi bicara dalam konteks nasional, melainkan universal.

Dan Universalitas membutuhkan manusia-manusia yang berkualitas global. Salah satu indikatornya adalah menghargai cara manusia berhubungan satu dengan yang lain, alias menghargai bahasa. BUkankah diciptakan manusia dalam beragam ras, beragam warna kulit, dan kebangsaan, untuk saling mengenal satu sama lain dan bersilahturahim diujung tujuannya.

Maka jIka disodorkan pertanyaan, "lalu apa solusi dari anda?". Maka, saya akan menjawab : Saya bangga berbahasa Indonesia. Bangga pula berbahasa daerah. Juga bangga berbahasa Asing. Bahkan saya bangga berbahasa tanpa bahasa, yaitu bahasa nonverbal alias bahasa tubuh alias bahasa gestur. Saya bangga berbahasa. Saya bangga berbudaya. Saya bangga menjadi hamba, menjadi bagian dari sebuah sistem universalitas nan sempurna (syaamil wa muttakamil). []

Diposkan oleh doniriadi.blogspot.com Thursday, October 29, 2009 0 komentar

"Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1430 H",
Mohon Maaf Lahir & Batin,
Minal Aidin Wal Faidzin,
Kullu 'Amin Wa Antum Bi Khair.
Tommorrow must be better...

Diposkan oleh doniriadi.blogspot.com Saturday, September 19, 2009 0 komentar


Dialogku dengan Kant kemarin, sedikit banyak telah mencairkan pembekuan tinta. Begitu pula dengan testimoni dari para sahabat yang memantau dialog itu. Hari ini, aku bahkan sudah melangkahkan kakiku untuk menatap rak usang dengan barisan buku-buku yang juga usang. Satu langkah besar untuk bisa menulis, sudah hendak kulakukan, yaitu : membaca. Kemarin kehendak ini ikut terkubur, dan sekarang menyeruak ke permukaan.

Di hadapanku sekarang ada Ibnu Qayyim, Ary Ginanjar, lalu Al-Qarni. Aku ingat disebelah Al-Qarni itu ada Rumi, tapi ia sekarang sudah tak ada lagi. Rumi telah pergi ke tempatnya yang baru, beberapa kilometer jauhnya dari sini. Terbersit kemudian keinginan untuk berdialog dengan Rumi, tapi lalu kubatalkan. Mungkin setelah ini.

Jadilah sekarang aku berada didepan sebuah rumah sederhana, putih warnanya. Sayup-sayup aku mendengar suara dari samping rumah, yang kutahu itu disana ada sebuah gazebo kecil. Kesanalah aku melangkah.

Suara itu, laki-laki, agar berat, berkata,
"HUkum kematian manusia masih terus berlaku,
karena dunia juga bukan tempat yang kekal abadi.
Adakalanya seorang manusia menjadi penyampai berita,
dan esok hari tiba-tiba menjai bagian dari berita,
ia dicipta sebagai mahkluk yang senantiasa galau dan gelisah.
sedang kau mengharap selalu damai dan tentram.
Kehidupan adalah tidur panjang, dan kematian adalah kehidupan,
maka manusia berada diantara keduanya;
dalam alam impian dan khayalan.
Maka selesaikanlah tugas dengan segera, niscaya umur-umurmu,
akan terlipat menjadi lembaran-lembaran sejarah yang akan ditanyakan..."

Suara itu berasal dari seorang Al-Qarni. Doktor muda Arab Saudi, Al-Hafidz, dan hafal pula banyak hadist dan syair-syair kuno, juga filsafat-filsafat kekinian. BUkunya "La Tahzan" telah diterjemahkan dalam banyak bahasa, Indonesia salah satunya. Dan demi melihat aku datang, ia segera mengulurkan tangannya. Dan muridnya, yang tadi menyimak ucapannya undur diri sambil mendekapkan sebuah binder didadanya.

Qarni :"Salaam... salaam... ya saudaraku", sambil menyilahkanku duduk.

Doni :"... "La-Tahzan" anda itu... telah membawaku kemari"
Ia tersenyum, lalu berucap "Alhamdulillah... alhamdulillah"

Doni :"Mungkin tanpa ada sadari, melalui "La Tahzan" anda telah menyalakan banyak perapian yang padam. Anda telah menyinari banyak kegelapan, dan membantu menemukan jalan yang hilang dari para perantauan"
Qarni :"begitukah? sebenarnya tidak juga. Mulanya aku menulis untuk diriku sendiri. Aku hendak menghalau kesedihan dan kegundahan atas banyak hal pada diriku. Dan, bilamana ia kemudian berlaku pula pada orang lain, saya hanya bisa mengucap Alhamdulillah... Yang jelas, banyak orang mengatakan tulisan saya berhasil menyentuh hati dan emosi mereka, padahal saya hanya menulis begitu saja, cuma memang saya meletakkan hati dan emosi saya sebagai tinta utamanya. Ada banyak tekstual wahyu di dalamnya, bilamana saya tak melibatkan diri saya, terutama penderitaan saya, tak mungkin ayat-ayat itu lalu bisa 'hidup'.."

Doni :"Darimana anda memulainya lebih dulu? Dari keinginan hendak menulis lalu mencari ide? atau keinginan untuk memulihkan diri dengan cara menuliskannya?
Qarni :"emmm, buat saya itu tak ada bedanya...keduanya sama-sama berproduk tulisan. Intinya, selama ia masih dalam kisaran berproduksi, berkarya, itu sudah sangat baik"

Doni :"Oke, apa yang anda rasakan, setiap kali usai menulis catatan-catan pendek dalam La Tahzan itu?
Qarni : "ketenangan, tentu saja"
Doni :"Apakah kemudian problem-problem hidup anda menjadi usai?
Qarni :"kalaupun usai, pasti akan datang problem baru lagi. Begitulah cara Allah membuat tangguh umatnya... La Tahzan itu fokus pada penguatan diri, pembangkitan diri dari keterpurukan dan kesedihan. BIlamana kau sudah merasa gembira atau paling tidak, tenang... maka kau akan siap untuk bekerja, dan berkarya. Semua problem itu tidak akan usai selama kita tidak mengusaikannya."

Doni :"bagaimana dengan sahabat? apakah anda memiliki teman bicara?
Qarni :"dalam konteks menulis, sebaik-baik teman duduk adalah BUKU. semakin banyak buku kau baca dan hayati, semakin banyak teman bicaramu...Al-JAhiz berkata, buku tidak akan memujimu dengan berlebihan, bukua dalah sahabat yang tidak menipumu, dan teman yang tak membuatmu bosan..dia juga toleran dan tak akan mengusirmu atau mengkhianatimu"

Doni :"kurasa anda benar, baru saja aku berbaikan dengan buku, setelah sekian waktu aku memutuskan diiri secara sepihak untuk memusuhinya, dan nyatanya rasa kehilangannya jauh lebih menusuk dari kepergian sahabat bernama manusia"
Qarni :"mmm, sebetulnya, jika sahabat manusiamu yang pergi itu sempat menuliskan kata-kata, maka kau tidak akan benar-benar meninggalkannya. Melalui kata-katanya itu kau masih bisa bersahabat dengannya. Bahkan bilamana ia berkalangtanah pun, kau masih bisa bersahabat dengannya...kata, tulisan, buku, adalah manifestasi sahabat, tak lekang dimakan waktu.."

Mata Doni berbinar-binar demi mendengar kalimat itu. Seingatnya, ia telah menyimpan banyak kalimat-kalimat dari orang-orang yang ia kagumi dan yang ia jalin persahabatannya sepanjang waktu. Dokumen-dokumen itu akan menjadi teman duduk yang baik.

Qarni :"HAl yang penting pula adalah, hiduplah di hari ini... itu karena yang kemarin kan sudah berlalu, dan yang esok belum tentu lagi datang. Isilah hari ini, dengan yang terbaik yang kau punya, seolah ini menjadi hari terakhr bagimu.!"
Doni :""kadang aku tidak begitu memikirkan hari ini, ...aku malah memikirkan hari akhir... Lalu, bagaimana dengan hari akhir?"
Qarni :"Apanya yang bagaimana? Apakah hari akhir itu ada maksudmu? HAha, kau dan taraf keimananmu di hari ini, tentu saja tak menyangsikan hari akhir kan? Ya, hari akhir, hari pembalasan, adalah salah satu motivasi terkuat buat orang-orang beriman untuk berkarya. Ada korelasi yang sangat kuat antara 'hari ini' dengan 'hari akhir'. Yaitu, apa yang kau buat di 'hari ini' adalah yang kau tanam 'di hari akhir'

Doni :"Bagaimana dengan orang-orang tak beriman? bukankah mereka juga berkarya?" JIka tak percaya hari akhir, apa kira-kira motivasi mereka berkarya?"
Qarni :"hemmm...bukankah kemarin kau bertemu Kant? Kenapa tidak kau tanyakan saja pada Kant soal itu? Atau bagaimana jika kau hubungi via ponsel saja Kant?

Doni lalu memencet beberapa nomor di ponselnya, ia menghubungi Immanuel kant,dan menanyakan soal 'hari akhir' itu padanya. Di ujung jauh, Kant segera punya jawaban.

KAnt :"Sesungguhnya, panggung kehidupan dunia ini belum lagi sempurna, pasti ada sebuah panggung kedua. Sebab kita semua melihat di sini, orang yang zalim dan dizhalimi, namun kita tidak mendapatkan keadilan. Orang yang menang dan yang kalah, namun kami tidak mendapatkan balasan yang pasti. Maka, pasti ada alam lain yang akan menyempurnakan keadilan"

tut...tut...tut... (telephon terputus)

Qarni :"Nah, kurasa, itu sudah cukup membuatmu paham. KAnt saja berkeyakinan, akan ada hari pembalasan itu"

Doni :"Ya, tapi kadang, kesulitan yang aku dapati di hari ini itu demikian dahsyatnya, mampu meluruhkan semangat dan tulang-tulangku."
Qarni :"Ingat saja kata Plato : 'Kesulitan itu akan memperbaiki jiwa sebesar kehidupan yang dirusaknya. Sedangkan kesenangan akan merusak jiwa sebesar kehidupan yang diperbaikinya'..."

Doni :"maksudmu, dengan bertemu kesulitan, itu lebih baik dari kesenangan?"
Qarni :"dalam beberapa konteks, ya...lebih baik begitu. Karena senang, akan membuatmu lebih lalai. Kesulitan, ketersisihan, kepahitan, membuat tulisanmu akan lebih berasa, lebih menggerakkan. Tulisan yang dibuat dalam kesenangan dan kemudahan umumnya berasa lebih hambar, hatta itu berupa nasihat."
Qarni :"KAu juga bisa memanfaatkan kemaksiatan. Ibnu Taimiyah menyebut, dalam beberapa hal kemaksiatan itu baik untuk manusia, dengan catatan : bilamana kita menyesalinya dan mentaubatinya...Itu juga bisa menjadi energi buat kehidupan"

Doni "begitu ya? hemmm, baiklah...terima kasih untuk semuanya. Senang bisa bertemu anda. PAling tidak ramadhan ini saya telah bisa menghisab diri saya sendiri, dengan cara yang sungguh berbeda dibanding ramadhan kemarin... segalanya terasa terang benderang kini."

Maka, saat aku melangkahkan kakiku pulang, Al Qarni mengantarnya dengan sebuah syair :
"Berapa banyak kita memohon kepada Allah saat bahaya menimpa,
namun tatkala bencana itu hilang, kita melupakan-Nya,
Di lautan kita berdoa kepada-Nya agar kapal kita selamat,
namun ketika sudah kembali ke darat, kita lalu durhaka kepada-Nya".

Diposkan oleh doniriadi.blogspot.com Wednesday, September 02, 2009 1 komentar

Hari ini, aku mengundang Kant, Immanuel Kant, seorang filsuf asal Jerman abad pertengahan. Konon, ia adalah angota komunitas rahasia Illuminati alias "Mereka yang Tercerahkan". Beberapa hasil pemikiran Kant tentang Pencerahan (Enlightment), khususnya "SAPERE AUDE!" hingga hari ini masih diperbincangkan, terutama di kampus-kampus. Sebenarnya aku juga ingin mengundang Plato atau Da Vinci Si Master Mason itu, namun karena kondisi mereka telah telalu renta, sehingga sulit untuk bisa datang memenuhi undanganku.

Dulu banget, aku pernah 'dekat' dengan Kant ini. Bersama dengan Tan Malaka lewat "Madilog" dan Hegel yang menulis "Marx", aku mengikuti pengembaraan berpikir mereka, sebelum kemudian disudahi karena ada pemikiran lain yang tak kalah oke, Al-Banna dari Mesir.

Aku mengundang Kant, karena kuharap ia bisa membantuku menemukan jalan keluar. Aku sedang terjerat dalam masa kegelapan. The Dark Age of Writing. Tinta penaku membantu. Stagnan.

***

Kant : "yow, brother... Tumben, memanggilku kemari. Wazz up?"
Doni : "Ya, silahturahim gitulah...mumpung bulan puasa, kan"
Kant : ^_^

Doni : "Jelasin lagi dong tentang SAPERE AUDE! -mu itu."
KAnt : "oh itu..."Sapere Aude" = Beranilah menggunakan pemahamanmu sendiri! Btw, kau tidak memanggilku hanya untuk mendengarkan aku mendongeng "Sapere Aude", kan?"

Doni : "^_^.. begitulah, kurasa "Sapere Aude"-mu itu bisa menjadi awal terpecahnya problemku. Sudah lama aku tak berpikir. Selama ini pula aku menelan mentah-mentah apa saja yang mampir melalui mulut dan telingaku. Sekarang, bahkan aku sendiri tak tahu banyak apa saja yang sebenarnya sudah aku telan."
Doni : "Bantu aku mencari jawaban, mengapa begitu susahnya aku merangkai kalimat, aku kehilangan spirit buat menulis kata-kata yang panjang dan bermakna. Tak ada tulisan baru dalam dua blogku, juga buat media-media yang lain. Bahkan, aku juga tak hendak menggunakan kamera sebagaimana mestinya, menggantikan tulisan dengan rupa. Tidak juga ada grafis baru. Tak ada karya baru hari ini.

Kant : "Gimana rasanya?"
Doni ; "Bloody Hell!... Killing me softly!"

KAnt ; " MAri kita urai satu-satu. GUnakan pemahamanmu sendiri. Temukanlah"
Doni : " Apa karena aku kurang dekat dengan Allah? Sehingga Dia men-disable kemampuanku menulis? BUkankah semua ilmu yang ada dimuka bumi ini milik-Nya? Ia bisa berikan kepada siapa yang Ia mau sebagaimana ia tidak menghendakinya dengan mencabutnya"

Kant : "hemm...it's sound so spiritual. Oke, biarkan mengalir. Bagaimana dengan dzikirmu? Apa kau bilang dulu? Dzikrullah?"

... (silent)

Doni : "entahlah juga...bingung aku menjawabnya. Jika kujawab iya, bagaimana jika ternyata dzikirku hanyalah sebatas membasahi lisan, tanpa hatiku turut serta berdzikir. Bila kujawab tidak, ahhh... itu tidak mungkin...aku tidak segersang itu. Tapi, jujur kuakui...aku gelisah"
Kant : "Lalu dimana kekuatan kata yang kau tulis dulu...'Hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang.'...BAgaimana kau menjelaskannya?

Doni : "Kant, pokok permasalahannya adalah...aku masih berdzikir dengan lisanku... Aku masih menyebut nama-Nya, dengan takzim...tapi aku kehilangan kekuatan untuk berdzikir dengan tulisanku... dengan penaku."
Kant lalu menghela nafasnya. Sejenak ia menyeruput kopi hitam dihadapannya. Kopi yang sudah mulai dingin tentu saja, karena dibiarkan lama di cangkirnya.

Kant : "Mungkin karena tak ada lentera. Kau tahu... yang ditemukan si Edison itu...Lampu kedip-kedip di atas kepala, alias ide. Kau tak punya ide buat menulis?"
Doni : "Tidak, justru ideku menumpuk-numpuk. Ngantri buat ditulisi."

Kant : "Mungkin kau bingung darimana mulai menulisnya?"
Doni " "KAnt, please deh... Aku guru menulis. Ini bukan soal tak ada ide, atau bingung memulai menulis, atau bagaimana soal lead yang bagus, atau teknis-teknis lainnya. Ini soal spirit... motivasi...atau apalah namanya itu."

Kant : "hahaha... rileks, bro. Mari kita urutkan. Katamu tadi, engkau gelisah, lalu kehilangan motivasi, energi buat bergerak. nah...kurasa, kau harus mulai dari situ. Mengapa energimu menurun drastis? ada apa dengan motivasimu? Kurasa ini, bukan soal Allah yang mencabut kemampuanmu menulis... tapi engkau sendiri yang menekan tombol turn off,.. di bawah alam sadarmu...engkau sedang menggali lubang kuburmu sendiri."

Doni lalu memalingkan wajahnya, menyandarkan punggungnya ke bahu kursi. Kant lalu bisa melihat sosok didepannya ini sedang menerawang jauh.

Kant : "Kau sedang ada masalah? itu yang mengganggu pikiranmu?"
Doni : "emang ada, manusia tanpa masalah?" (masih dengan menerawang jauh)
KAnt : "show me the problem... selesaikan satu-satu"
Doni : "ya, kurasa, sedikit banyak ini berpengaruh... so complicated. Tapi kurasa itu semua karena soal manajemen hati...soal caraku memandang semua problem. semua sisi hidupku bermasalah...tapi itu tadi, bukankah untuk itu manusia hidup? memecahkan masalahnya, meski dengan cara yang berbeda-beda."

KAnt : "jadi, sebenarnya... kau hanya butuh 'a rubbish box'. Sebuah 'kotak sampah' yang bisa kau tuangi dengan segala sampah dan sumpah serapah. Bukankah begitu?"
Doni : "itulah yang aku tak punya...sehingga, kurasa ia sudah menggunung kini... mungkin saja, aku akan mati dakam gunungan sampahku sendiri...

Doni lalu berkata lirih : "dia pergi... ada sesuatu yang berharga dalam hatiku, dan kini dia pergi.."
Kant : "terdengar melodramatik kini... ^_^"
Doni : " ya...diantara yang pergi itu bernama : idealisme... Lalu ada juga yang bernama...ahhh... i'm sorry, i can't tell you more...poor me!"

KAnt : "oke, kita dapat satu titik terang. Jalan keluarnya adalah, kau memanggil kembali mereka yang pergi untuk datang kembali, atau kau menyusun kembali kamar-kamar baru untuk sesuatu yang serba baru nanti. Sekarang ke titik gelap satunya lagi, yaitu motivasi."

Kant : "menulislah...lumayan kan fee-nya bisa buat THR Lebaran"
Doni : "ga minat, bro..."

Kant : "bagaimana jika, agar fee-nya itu bisa buat kau sumbangkan buat anak yatim? atau yang setara mulianya dengan itu?"
Doni : ....(menghela nafas saja)

Kant : "Atau karena sudah tidak banyak yang memuji tulisanmu, lalu kau kecewa?"
Doni : "cape deh..."

Kant : "Lalu, bagaimana kau menjelaskan kalimatmu sendiri..yang "menulislah sebagaimana engkau bernafas?... kau harus bertanggungjawab soal itu."
Doni : "blame me...salahkan saja aku, aku menerimanya"

Kant : "Selamat... kau benar-benar telah sakit jiwa. Kau bahkan tidak tahu apa yang harus kau perbuat, jangan-jangan kau juga telah kehilangan mimpimu...Manusia tanpa mimpi..huh, layaknya London tanpa Big Ben, Paris tanpa Eiffel, dan Cina tanpa The Greatwall... Ayolah!"
Doni : "Tidak, karena justru diriku dipenuhi mimpi, tidak ada lagi ruang realis tersedia..."

Kant : "Maka, bagilah mimpimu itu, jika kau memang masih punya mimpi... aku takut, angan-angan kosong belaka namun kau sebut mimpi yang hanya ada dikepalamuitu. merekalah sesungguhnya parasitnya...menggerogoti energimu laksana kanker ganas."

Kant : "Okey, now listen carefully... Buang jauh-jauh segala niat muliamu, yang kau sebut dakwah bil qolam itu, sebagai motivasi terkuatmu menulis. Kadang itu bagus untuk suatu waktu yang lain. Tapi untuk saat ini, kurasa itu tak cukup relevan. Menurutku, jadikan menulismu itu sebagai obat bagi dirimu, yang sedang sekarat. ANggap dirimu sedang sekarat, dan obatnya hanya satu : menulis. Kau tak menulis, maka kau menghampiri kematianmu."
Doni :"ya.. i'm dying...sekarat"

KAnt : "nah, bukankah kau kemarin baru sja mengutip Rendra ...bahwa 'aku sakit...lemah...tapi aku berdaya...' di detik-detik kematiannya? Rendra menulis dan ia terobati..ia merasa masih memiliki daya...meski tubuhnya harus luluh melawan usianya. Kamu tau, di dunia ini...yang sakit ingin merasa sehat, tapi yang sehat lebih memilih sakit...agar dikasihani dan disantuni..."
Doni : "stop..stop...aku tahu maksudmu...kau ingin mengatakan, aku tidak pantas caper pada usiaku sekarang ini bukan? Tapi, kurasa kau benar. Semakin lama aku berkubang dalam masa kegelapan ini, maka semakin terkubur aku dalam-dalam. Kau juga benar, obatnya hanya satu...menulis..."
Doni : " lega deh...akhirnya aku bisa juga egois. aku dari dulu ingin menjadi sosok yang berpikir egosentris...tapi tak pernah menemukan alasan dan apologis yang me-mubahkan semua keegoisan itu. Sekarang, aku menemukannya. Aku harus menulis, untuk diriku sendiri... to survive...untuk mengobati jiwaku...hatiku...diriku..

."

Kant :"JAdi, Legakah kau sekarang? Jika ia, aku ingin pamit pulang. Socrates telah menungguku untuk berdebat soal eksistensi manusia dan kemanusiaan. Do u want to joint?"
Doni :"maturnuhun, Kant... kau telah banyak membantu...soal tawaran itu, ya...kapan-kapan aku akan gabung...asal aku boleh membawa muridku turut serta..hehe ^_^"

Aku kemudian mengantar Kant ke depan pintu gerbang, sambil memaksanya membawa sebiji duren. Iya, Kant kan belum pernah makan duren... Hihi, biar dia bingung, apa enaknya buah yang kulitnya saja sudah berduri. Ahh...apa hubungannya, stagnasi, Kant, dan duren? Dasar!

Diposkan oleh doniriadi.blogspot.com 4 komentar

(photo source : http://cluritmas.wordpress.com)

SAJAK TERAKHIR RENDRA 


Aku lemas
Tapi berdaya
Aku tidak sambat rasa sakit
atau gatal

Aku pengin makan tajin
Aku tidak pernah sesak nafas
Tapi tubuhku tidak memuaskan
untuk punya posisi yang ideal dan wajar

Aku pengin membersihkan tubuhku
dari racun kimiawi

Aku ingin kembali pada jalan alam
Aku ingin meningkatkan pengabdian
kepada Allah

Tuhan, aku cinta padamu

Rendra
31 July 2009

Mitra Keluarga

***

Puisi terakhir Rendra ini ku copy dari Catatan di FB-nya mas Timur Sinar Suprabana.
Bahkan dalam sakitnya, Rendra masih bisa menggoreskan kata-katanya.

Kamis (6/08), pukul 22.15 WIB, Indonesia kehilangan lagi satu penyair, sastrawan, dan guru terbaiknya. Rendra, Si "Burung Merak" itu, menuju keabadiannya.

Usia boleh usai, tapi karya akan bertahan selamanya...

menjadi abadi..

Diposkan oleh doniriadi.blogspot.com Friday, August 07, 2009 3 komentar



kemanakah ia gerangan?
apakah ia telah benar-benar hengkang?
adakah sejumput rindu mengembun
dan menetes melalui ujung daunku
memberi kesegaran
menyalakan harapan

tidakkah ia mampu melihat
layu pada hijau daunku
menanti tetes-tetes air hujan
yang tak kunjung menyapa
tak kunjung menggumpal dan mengembun
sewarna dengan kering tanah aku kini

lihatlah, segalanya hanya bisa kulihat dalam warna sepia
tidakkah ia berkenan sedikit berbaik hati
membagi kilauan tetes embunnya
agar tercipta warna pelangi
tercipta berjuta warna kehidupan
bahwa esok tak seelalu sunyi seperti hari ini

aku kehilangannya
namun aku malu untuk mengatakannya
bahwa aku merindukannya
rindu pada kesejukan dan sinaran kedamaian
dari setetes embun pagi yang meluncur ceria dari ujung daun
menyirami bumi dan hamparannya

sehelai daun yang lemah,
hanya bisa menunggu dan menunggu
dalam keras tiupan angin dan rongrongan tonggerek
bilakah ia terpatah dan jatuh lunglai ke atas tanah
atau tersisa setengah
atau meranggas dengan sendirinya
harakiri demi menjaga tanaman induknya tetap tumbuh

bila kelak embun pagi itu datang
mungkin ia hanya ditemui setengkorak ranting-ranting kering
tanpa sehelai daun yang akrab menyambutnya

segalanya telah banyak berubah
mungkin pula pucuk-pucuk daun baru bermunculan
tapi segala sesuatunya tak kan bisa kembali sama
sebelum terjadi segala sesuatunya
maka dengarlah saja doaku
semoga engkau baik-baik selalu
juga bahwa aku pernah
dan senantiasa
menunggumu
...

Diposkan oleh doniriadi.blogspot.com Tuesday, July 14, 2009 1 komentar

Subscribe here

Better Place For Children